Update sofware BOS KITA untuk TA 2012
Assalamu'alaikum wr wb.
Kembali lagi kita dengan sofware BOS, kali ini admin akan membahas beberapa permasalahan yang ada dalam software BOS KITA, salah satunya adalah hal yang perlu ditambahkan dan beberapa yang perlu di hilangkan dari "parameter sistem" software BOS KITA.
Pada software BOS ini, kita mendapatkan kesulitan untuk menentukan periode anggaran yang digunakan. Pertama adalah masalah periode. Kita mengalami kebingungan mengenai format periode yang digunakan, yaitu apakah Tahun Ajaran ataukah Tahun Anggaran ??. Jika Kita menggunakan Tahun Ajaran maka sekarang yang akan kita gunakan untuk periode laporan adalah Tahun Ajaran 2011-2012, namun jika kita menggunakan Tahun Anggaran Maka kita menggunakan Tahun Anggaran 2012. Nah untuk itu kita perlu menanyakan kepada pejabat yang terkait pada pendaan BOS untuk prov/kab/kota masing-masing. Namunj pada dasarnya kita tidak perlu mempermasalahkan hal tersebut, yang terpenting adalah transparansi transaksi serta kesesuaian anggaran dengan Juknis BOS 2012.
Kedua, yakni mengenai ketepatan waktu penyaluran dana ke rekening sekolah untuk beberapa daerah di Indonesia ( Kami tidak menyebutkan daerah mana, namun ada sedikit pengakuan dan pertanyaan lewat email mengenai hal ini untuk beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera). Jika penyaluran dana BOS terlambat, maka memerlukan Dana Pinjaman dari Pihak lain ( Kepo.sek/ Bendahara/ Komite/ lainnya ). Nah untuk jenis dan seperti apa pelaporannya diserahkan ke pihak masing-masing, bagaimana solusinya. Biasanya, transaksi yang digunakan untuk setiap transaksi menggunakan dana pinjaman, bukan bernilai minus.
Ketiga, penyesuaian parameter sistem BOS KITA dengan Juknis BOS 2012. Beberapa waktu lagi kami akan mengupload Software BOS KITA dengan parameter sistem yang baru sesuai dengan Juknis BOS 2012. Mohon bersabar.
Keempat, Sofware BOS KITA sering mengalami crash, atau error reporting ketika kita sedang bekerja. Nah untuk mengatasi hal ini Anda dapat membacanya kembali di link kami : Sofware BOS KITA. Selain cara yang telah anda baca pada halaman kami sebelumnya, Anda dapat mencoba cara di bawah ini :
1. Install ulang Microsoft Office Anda ( Bukan instal ulang Software BOS !!!).
2. Buka Sofware BOS kita, klik logo MS Office yang berada di pojok kiri atas ( lingkatan merah)
3. Klik "excel options " ( lingkaran merah )
4. Dimenu sebelah kiri, Klik menu "save", kemudian cari "save file in this format" ( lihat lingkaran merah).
5. Ubah dari "excel workbook" ke "Excel Macro-Enable Workbook" ( lihat lingkaran merah)
6. Kemudian masih di menu "save", Coba anda ubah setting "Save autorecover information every" yang tadinya 10 menit ke 1 menit. ( lihat lingkaran merah )
Demikianlah pembahasan mengenai Software BOS Kita, semoga bermanfaat, kunjungi kami kembali untuk mendapatkan update parameter Juknis BOS 2012
Arti Penting Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).
Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, 2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat,
Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Latar Belakang Pembelajaran Tematik
Kita sering sekali bahkan setiap hari mungkin selalu mengatakan "TEMATIK". Nah sekarang tidak ada salahnya kita mengupas sedikit tentang " Mengapa harus TEMATIK ? ". Langsung kita mulai pembahasannya dibawah ini.
Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.
Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.
Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Pada saat itu, data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.
Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % Peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.
Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.
Resource : Bahan BIMTEK Kepala Sekolah Tingkat Provinsi
Kisi-kisi soal Ujian Nasional Tahun Pelajaran Tahun 2011/2012

Cara menyampaikan kisi-kisi UN khusus SD, kami lalkukan dengan cara membahas materi per-Indikatornya, misalnya untuk sekali pertemuan membahas 1 nomor atau satu indikator soal, demikian seterusnya hingga anak paham. Saran : Kami menyampaikan dan membahas kisi-kisi per peserta didik, kami pindai terlebih dahulu mana yang mampu dikerjakan peserta didik, misalnya salah satu siswa hanya mampu menjawab 40% dari jumlah total soal, maka kami akan membahas dan menyampaikannnya per peserta didik. Kami juga tidak memaksakan anak yang tidak mampu memahami 100% dari jumlah soal, kami hanya memperkuat dan meningkatkan pemahaman mereka yang tadinya 40% menjadi sekitar 50-60% dari total soal. Biasanya kami akan memberikan tes awal dengan memberikan soal beserta kisi-kisinya, kemudian anak hanya akan menjawab 2 pilihan yaitu : Paham dan Tidak Paham. Kemudian kami akan menghitung prosentasi soal-soal yang mereka pahami dan soal-soal yang tidak mereka pahami. Setelahnya baru akan kami bahas per indikator soal pada kisi-kisi yang ada, di utamakan untuk soal yang dianggap tidak paham dengan melihat prosentase dan grafik tes awal yang telah dilakukan. Pada beberapa waktu lagi kami akan memposting Prediksi UN SD tahun 2012
Untuk melihat data yang telah didapat maka anda bisa melihat contoh grafik excel yang telah kami upload. Silahkan lihat pada link download dibawah ini :
Download Kisi-kisi UN SD 2012 ( Format Office Word)
Download Kisi- Kisi UN SD/SDLB/SMP/SMA/Sederajat 2012 ( Format Pdf)
Download Grafik Pemahaman Siswa.
Demikian, semoga bermanfaat.
Tips Khusus Bagi Penulis Ijazah

Hal semacam ini menjadi beban berat bagi penulis ijazah, ini pengalaman pribadi...Dalam menulis kita ekstra hati-hati, berikut ini adalah tips bagi guru/kepsek yang mungkin diperlukan ketika akan menulis ijasah :
- Untuk menghidari konflik dengan orang tua murid, pastikan sebelum anda mengusulkan daftar nominasi peserta ujian, kira-kira setiap bulan september / nopember, hendaknya anda terlebih dahulu meminta AKTE KELAHIRAN murid yang bersangkutan ( jika ada), sehingga jika ada kesalahan nama beserta identitas lahir siswa tidak terlalu parah.
- teliti terlebih dahulu jumlah ijasah yang akan anda tulis sama dengan jumlah nama/murid yang akan dibuatkan ijazahnya.
- pastikan nomor seri ijasah sama dengan data murid dan data nilai
- bila anda ragu tulis terlebih dahulu menggunakan pensil agar dapat mengurangi resiko kesalahan menulis.
- tulis terlebih dahulu data - data umum di ijasah, seperti nama sekolah, nama kepala sekolah, tanggal dll
- setelah semua ijasah telah ditulisi data - data umum baru kemudian data khusus seperti nama murid tgl.lhr dll
- pastikan data nilai dibelakang ijasah sama dengan data yang ada
- apabila capek, mengantuk dan badan kurang fit jangan tergesa-gesa menulis ijasah dahulu, beristirahatlah agar badan menjadi fit kembali
- apabila telah terjadi kesalahan menulis berhentilah dahulu sejenak untuk beristirahat, karena apabila dilanjutkan malah akan berakibat fatal.
- jangan mengoreksi langsung pada tulisan yang salah (dibiarkan saja) tulis kembali data - data yang lain saja. Minta blanko ijazah baru seperti langkah yang dijelaskan di bagian awal posting ini. Jika anda tidak mendapatkan blangko ijazah baru, maka siapkan mental Anda untuk mencoba mengorek-ngorek dengan sangat hati-hati menggunakan pisau silet yang tipis dan tajam ( gunakan kaca pembesar).
- Apabila kesalahan baru terlihat ketika telah di laminating, maka tidak ada jalan lain lagi selain minta blanko ijazah baru atau meminta surat keterangan dari dinas pendidikan kabupaten setempat.
- selamat bekerja.....
Metode Diskusi ( Bagian 2)
Pada posting beberapa waktu yang lalu, telah di bahas juga mengenai metode ini. Untuk melihat pembahasan sebelumnya, silahkan lihat disini : Metode Diskusi ( Bagian 1 ).
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dimana setiap anak ingin mencari jawaban atau penyelesaian problem dari segala segi dan kemungkinan yang ada. Metode kelompok dapat diklasifikasikan menjadi diskusi kelas, diskusi kelompok kecil, diskusi terpimpin maupun tanpa dipimpin oleh guru. Metode ini sangat efektif untuk melatih keberanian dan keterampilan anak dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapat, (DEPDIKBUD,1996).
Kesempatan bagi anak usia pendidikan di SD bekerja dalam kelompok kecil tampak demikian penting guna terselenggaranya proses belajar mengajar yang lebih hidup. Penggunaan metode diskusi dalam rangka pendekatan DAP (Developmentally Appropriate Practice) sebenarnya bukan saja sebagai salah satu cara menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik yang bersifat problematis, tetapi juga melatih anak dalam kehidupan sehari-hari untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan membentuk kompetensi-kompetensi sosial yang diperlukan.
Metode diskusi diartikan sebagai siasat "penyampaian" bahan pengajaran yang melibatkan peserta didik untuk membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Guru, peserta dan atau kelompok peserta didik memiliki perhatian yang sama terhadap topik yang dibicarakan dalam diskusi. Metode diskusi bertujuan untuk:
1. Melatih peserta didik untuk mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan dan menyimpulkan bahasan
2. Melatih dan membentuk kestabilan sosial-emosional
3. Mengembangkan kemampuan berpikir sendiri dalam memecahkan masalah sehingga tumbuh konsep diri yang lebih positif
4. Mengembangkan keberhasilan peserta didik dalam mengemukakan pendapat
5. Mengembangkan sikap terhadap isu-isu kontroversial
6. Melatih peserta didik berani berpendapat tentang suatu masalah.
a) Alasan penggunaan metode diskusi
Metode diskusi digunakan karena beberapa alasan sebagai berikut:
1. Topik bahasan bersifat problematis
2. Merangsang peserta didik untuk terlibat aktif dalam perdebatan ilmiah
3. Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan terbuka
4. Mengembangkan suasana demokratis
5. Peserta didik memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang masalah yang dijadikan topik diskusi
6. Peserta didik memiliki pengetahuan dan pendapat-pendapat tentang masalah yang akan didiskusikan
7. Masalah yang didiskusikan ada hubungannya dengan persoalan-persoalan yang lain pula.
b) Kekuatan metode diskusi
Adapun kekuatan metode diskusi dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Dapat mendorong partisipasi peserta didik secara aktif baik sebagai partisipan, penanya, penyanggah maupun sebagai ketua atau moderator diskusi.
2. Menimbulkan kreativitas dalam ide, pendapat, gagasan, prakarsa ataupun terobosan-terobosan baru dalam pemecahan masalah
3. Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan partisipasi demokratis
4. Melatih kestabilan emosi dengan menghargai dan menerima pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapat sendiri sehingga tercipta kondisi memberi dan menerima (take and given)
5. Keputusan yang dihasilkan kelompok akan lebih baik daripada berpikir sendiri.
c) Keterbatasan metode diskusi
Keterbatasan dari metode diskusi adalah:
1. Sulit menentukan topik masaiah yang sesuai dengan tingkat berpikir peserta didik dan yang memiliki relevansi dengan lingkungan
2. Memerlukan waktu yang tidak terbatas
3. Pembicaraan atau pembahasan sering meluas dan mengambang
4. Didominasi oleh orang-orang tertentu yang biasanya aktif
5. Memerlukan alat yang fleksibel untuk membentuk tempat yang sesuai
6. Kadang tidak membuat penyelesaian yang tuntas walaupun simpulan telah disepakati namun dalam implementasi sangat sulit dilaksanakan
7. Perbedaan pendapat dapat mengundang reaksi di luar kelas bahkan dapat
menimbulkan bentrokan fisik.
Penggunaan metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran Matematika kelas V misalnya diskusi taentang pengukuran yang di dalamnya terdapat masalah; ukuran waktu, ukuran panjang, ukuran luas, dan sebagainya.
Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran

a. Pengertian metode pembelajaran
Menurut Snelbecker (1982: 115) mengemukakan metode pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran dengan memahami perbedaan karakteristik dan kemampuan siswa, sehingga diharapkan guru dapat membantu kesulitan belajar siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa harus diusahakan dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran, artinya guru harus mampu memahami bahwa diantara siswa terdapat perbedaan-perbedaan karakteristik. Hal itu karena siswa berasal dari kondisi ekonomi dan kemampuan orang tua yang berbeda, sehinggn dalam mengikuti proses pembelajaran terdapat perbedaan pula. Sedangkan menurut Robert Heinich (1996) Methods are the procedures of instruction that are selected to help learners.
Dari pengertian tersebut jelaslah bahwa metode bertujuan untuk membantu siswa, dengan memahami perbedaan karakteristik siswa, dalam proses pembelajaran, oleh guru dapat menentukan dan memilih metode pembelajaran yang sesuai, guru dapat memberikan suatu perlakuan, dan penilaian serta keputusan yang tepat kepada siswa, sehingga siswa merasa dirinya dihargai dan diperhatikan dalam proses pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa komponen seperti siswa, guru dan metode serta media pembelajaran yang saling berinteraksi dalam mencapai tujuan. Dalam menyajikan materi pembelajaran guru perlu menentukan dan memilih metode pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Metode pembelajaran yang tepat adalah metode yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.
Metode adalah cara yang digunakan guru untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Masalahnya, metode yang dipakai sering terjebak pada yang klasik, seperti cara pembelajarannya yang klasik, yakni siswa duduk yang manis dan guru berdiri, sebagai tokoh sentral di depan kelas dan yang paling banyak digunakan adalah metode ceramah.
Untuk menentukan dan memilih metode pembelajaran, hendaknya berangkat dari perumusan tujuan yang jelas. Setelah tujuan pembelajaran ditentukan, kemudian menentukan dan memilih metode pembelajaran yang dipandang efektif dan efisien apabila metode tersebut dapat mencapai tujuan dengan waktu yang lebih singkat dari metode yang lain. Kriteria yang lain perlu
diperhatikan dalam metode pembelajaran adalah relevan dengan tujuan, isi proses belajar mengajar, kegiatan belajar mengajar dan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Nana Sudjana, 2005: 76).
Metode mengajar adalah bagian dari strategi mengajar yang merupakan langkah-langkah taktis guru dalarn pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pcngajaran. Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari segi efisiensi dan efektivitas. Efisiensi berkenaan dengan pengorbanan yang relatif kecil untuk memperoleh hasil yang optimal. Keefektifan berkenaan dengan jalan, upaya, teknik dan strategi yang digunakan dalam mencapai tujuan secara tepat dan cepat (Sudjana, 1996: 59).
Berdasarkan dari beberapa pendapat tersebut diketahui bahwa metode adalah bagian dari strategi mengajar yang merupakan langkah-langkah taktis yang diambil guru dalam menunjang strategi yang hendak dikembangkan. Jadi metode adalah adalah cara-cara yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi pelajaran matematika agar siswa merasa tertarik dan termotivasi untuk mengikuti pelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal. Metode pembelajaran sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, sehingga apabila siswa telah termotivasi akan semakin bersemangat untuk belajar matematika, karena dalam belajar matematika dibutuhkan konsentrasi. Matematika mempunyai aspek-aspek tujuan diantaranya pengembangan keterarnpilan berpikir kritis dan kreatif, dapat memecahkan masalah-masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Winarno Surakhmad (1994: 96) mengemukakan bahwa metode pembelajaran dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu: (a) metode pembelajaran secara individual, (b) metode pembelajaran secara kelompok. Kedua metode pembelajaran tersebut pada hakekatnya menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran yang sama. Perbedaannya bahwa metode pembelajaran individual lebih ditekankan pada pembelajaran individunya, sedangkan pembelajaran kelompok biasanya dilakukan pada sebagian besar orang yang berada dalam suatu kelas.
Oleh karena itu peranan metode mengajar adalah sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar atau terciptanya interaksi edukatif. Dijelaskan oleh Sardiman (1989: 30) bahwa, Interaksi edukatif dalam proses belajar mengajar merupakan proses interaksi yang disengaja, sadar tujuan yaitu mengantarkan anak didik ke tingkat kedewasaan yang memiliki ciri-ciri sadar
tujuan, ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi, ada subjek didik, ada guru yang melaksanakan, ada metode untuk mencapai tujuan, ada situasi kondusif untuk meningkatkan proses belajar mengajar berjalan baik dan ada penilaian terhadap interaksi.
Metode pembelajaran matematika perlu divariasikan dengan metode lain seperti diskusi, pemberian tugas LKS (Resitasi) , latihan siap (drill), sosiodrama dan ceramah. Kemampuan guru berkait dengan kemampuan menyajikan metode pengajaran, sehingga materi tersebut benar-benar bermakna dan dirasakan bermanfaat.
Proses belajar mengajar yang baik memberi pengaruh yang baik kepada perkembangan pribadi siswa. Mereka belajar berpikir secara kritis dan kreatif, bekerja sama untuk memecahkan masalah, belajar mengenai kesanggupan yang ada pada dirinya. Dengan mempelajari suatu mata pelajaran akan memberikan pengalaman yang membangkitkan bermacam-macam sifat, sikap dan kesanggupan yang konstruktif, sebab isi kurikulum sendiri mengandung nilai-nilai yang berharga dalam kehidupan, termasuk mata pelajaran matematika. Pengajaran apapun tanpa dirasakan manfaatnya oleh siswa akan menjadikan pengajaran tersebut kehilangan makna. Hal yang demikian ini apabila terjadi dalam proses belajar mengajar, maka hakekatnya belajar itu sendiri telah mengalami kegagalan. Barangkali hal yang relevan dengan tujuan pengajaran matematika adalah menjadikan pelajaran matematika yang dipelajari dirasakan manfaatnya oleh siswa sudah barang tentu yang diutamakan bukan menghafal rumus-rumus saja melain perlu ketahapan yang lebih jauh yaitu kearah pemahaman konsep secara menyeluruh sehingga dengan demikian siswa tidak akan merasa kesulitan ketika mendapat permasalahan yang dikembangkan dari berbagai konsep.
-------------#----------------
DAFTAR PUSTAKA
Robert Heinich. 1996. Englewood, New Jersey Columbus, Ohio.
Nana Sudjana. 2001. Media Pengajaran (Penggunaan Dan Pembuatannya). Bandung: Sinarbaru Algensindo.
______. 1996. CBSA Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sardiman AM.. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Perss.
Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung: Tarstio.
Penggunaan Media dalam Pembelajaran

1) Prinsip-prinsip umum penggunaan media
Dalam memilih media untuk pembelajaran, guru sebenarnya tidak hanya cukup mengetahui tentang kegunaan, nilai, serta landasannya, tetapi juga harus mengetahui bagaimana cara menggunakan media tersebut. Adapun prinsip-prinsip umum penggunaan media adalah sebagai berikut: a) penggunaan media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai bagian integral dalam sistem pembelajaran, b) guru hendaknya mengalami tingkat hirarki (sequence) dari jenis alat dan kegunaannya, c) pengujian media pembelajaran hendaknya berlangsung terus, sebelum, selama, dan sesudah pemakainnya, d) penggunaan multimedia akan sangat menguntungkan dan memperlancar proses pembelajaran.
2) Langkah-langkah penggunaan media
Untuk menggunakan media, seharusnya dilakukan perencanaan yang sistematik. Perlu diingat pula bahwa media pembelajaran digunakan bila media itu mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang disampaikan.
Langkah-langkah penting dalam penggunaan media yaitu sebagai berikut.
a) Persiapan sebelum menggunakan media
Langkah awal penggunaannya adalah membuat persiapan sebaik-baiknya, yang dilakukan dengan cara berikut ini.
(1) Mempelajari petunjuk penggunaan media, terutama bila dibutuhkan perangkat keras seperti berbagai jenis pesawat proyektor (media elektronik). Periksalah voltase alat untuk disesuaikan dengan listrik setempat sebelum menghidupkan alat. Setelah itu, ikuti petunjuk-petunjuk khusus tiap alat. Di samping manual yang terdapat pada alat, mungkin masih diperlukan buku-buku khusus tentang penggunaan media.
(2) Semua peralatan yang akan digunakan perlu disiapkan sebelumnya, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran tidak akan terganggu oleh hal-hal yang bersifat teknis.
(3) Perhatikan pengaturan ruang dan jumlah siswa, bila media akan digunakan secara kelompok, penempatan media diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan semua siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik.
b) Pelaksanaan penggunaan media
Pada saat kegiatan belajar dengan menggunakan media berlangsung, hendaknya dijaga agar suasana tetap tenang. Keadaan tenang tidak berarti siswa harus duduk diam dan pasif, yang penting perhatian siswa tetap terjaga.
Bila hendak menggunakan pesawat proyektor yang memerlukan kegelapan ruang, usahakan agar siswa masih dapat menulis, sehingga masih mungkin membuat catatan yang perlu. Jika dalam proses pembelajaran guru masih perlu menambahkan penjelasan yang harus ditulis dipapan tulis atau transparsi, maka usahakan agar pembelajaran tidak terhalang oleh posisi berdiri guru. Di samping itu, guru jangan sampai terlampau lama membelakangi pelajar, sehingga kelas kacau karena perhatian guru berkurang. Jika media akan digunakan secara berkelompok, maka usahakan setiap kelompok secara bergiliran dipantau. Dengan demikian, guru dapat membantu siswa bila mendapat kesulitan. Selain itu, dapat terjaga ketertiban kelas (antar kelompok tidak saling terganggu). Selama sajian media berlangsung, dapat diselingi dengan pertanyaan, meminta siswa melakukan sesuatu misalnya menunjukkan gambar, mengerjakan soal, atau merumuskan sesuatu.
c) Evaluasi
Tahap ini merupakan tahap penyajian apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, selain untuk memantapkan pamahaman materi yang disampaiakan melalui media. Untuk itu perlu disediakan
tes yang harus dikerjakan oleh pebelajar sebagai umpan balik. Apabila ternyata tujuan belum tercapai, guru perlu mengulangi sajian program media tersebut.
d) Tindak lanjut
Dari umpan balik yang diperoleh, guru dapat meminta siswa untuk memperdalam sajian dengan berbagai cara, misalnya diskusi tentang hasil tes, mempelajari referensi, membuat rangkuman, melakukan suatu percobaan, observasi, dan sebagainya.
Uraian di atas merupakan suatu prinsip penggunaan media secara umum dalam pembelajaran. Smaldino dkk dalam Sri Anitah (2009: 74) mengemukakan penggunaan media yang disebut “The ASSURE Model” dengan penjelasan sebagai berikut.
A = Analyze leaner characteristic (menganalisis karakteristik pebelajar)
Langkah yang pertama adalah mengidentifikasi karakteristik pebelajar. Pebelajar, mungkin siswa, mahasiswa, peserta pelatihan, atau anggota suatu organisasi pebelajar, dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe, yakni: (1) karakteristik umum; dan (2) karakteristik khusus (pengetahuan, keteranpilan, dan sikap tertentu untuk mempelajari suatu pokok bahasan).
S = State objectives (menyatakan tujuan)
Langkah berikutnya adalah merumuskan tujuan pembelajaran sekhusus mungkin. Tujuan ini mungkin dijabarkan dari silabus, buku teks, kurikulum, atau dikembangkan sendiri oleh guru.
S = Select methods, media, and materials (memilih metode, media, dan materi) Rencana untuk menggunakan media dan teknologi, pertama-tama tentu saja menuntut pemilihan yang sistematis. Proses memilih ada 3 tahap yaitu: (1) menentukan metode yang sesuai untuk suatu tugas belajar, (2) memilih bentuk media yang cocok dengan metode yang akan disajikan, dan (3) memilih, memodifikasi, atau merancang materi secara khusus dalam bentuk media.
U = Utilize media and materials (memanfaatkan media dan materi)
Perubahan paradigma pembelajaran dari teacher-centered ke studentcebtered, yang lebih memungkinkan pebelajar memanfaatkan materi, baik secara mandiri atau kelompok kecil daripada mendengarkan presentasi guru secara klasikal. Untuk mengaplikasikan media dan materi,baik untuk teacher centered maupun student centered, perlu melakukan: (1) preview materi, (2) menyiapkan materi, (3) menyiapkan lingkungan, (4) menyiapkan pebelajar, (5) menyajikan pengalaman belajar.
R = Require learner respon (meminta respon pebelajar)
Pebelajar mempraktikkan apa yang diharapkan untuk dipelajari dan seharunya mendapatkan penguatan untuk respon yang benar. Pebelajar harus aktif dalam kegiatan belajar yang mengharuskan untuk memberikan respon dan menerima balikan atas penampilan.
E = Evaluate (menilai)
Setelah pembelajaran berakhir, perlu diadakan evaluasi untuk mengetahui hasil serta keefektifan kegiatan belajar. Guna memperoleh gambaran secara lengkap, anda harus mengevaluasi proses pembelajaran secara meyeluruh. Apakah pembelajaran telah mencapai tujuan? Apakah media cukup membantu siswa mencapai tujuan? Dapatkah seluruh siswa menguasai materi? Apakah guru cukup memberi fasilitas belajar kepada siswa?
-::- Sri Anitah. 2009. Media Pembejaran. Surakarta: UNS Pres -::-
ENd-editing-seaching on Google.co.id
Artikel Terkait :
Celestia - Sofware Simulasi Alam
Free Download Education Software
Download Media Pembelajaran
Download Media Pembelajaran 2
Inpassing Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil (GBPNS)
Inpassing Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil (GBPNS) adalah proses penyesuaian kepangkatan Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dengan kepangkatan Guru Pegawai Negeri Sipil. Inpassing Jabatan Fungsional GBPNS dan Angka Kreditnya ditetapkan berdasarkan dua hal, yaitu kualifikasi akademik dan masa kerja yang dihitung mulai dari pengangkatan atau penugasan sebagai GBPNS pada satuan pendidikan.
Manfaat GBPNS yang telah memiliki SK Inpassing adalah bila sudah lulus sertifikasi akan mendapatkan tunjangan profesi yang besarnya sesuai dengan gaji pokok golongan yang tertulis pada sk inpassing.
Untuk mengajukan sk inpassing GBPNS harus memenuhi syarat usul sk inpassing. Penetapan jabatan fungsional GBPNS dan angka kreditnya, bukan sebatas untuk memberikan tunjangan profesi bagi mereka, namun lebih jauh adalah untuk menetapkan kesetaraan jabatan, pangkat/golongan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku sekaligus demi tertib administrasi GBPNS.
Bila usulan sudah dikirim, perlu dipantau: kontak ke Kantor Dinas Pendidikan atau usaha mandiri secara online. Untuk memantau secara online, ada dua jalan:
- Lihat SK Inpassing
- Lihat Status Kekurangan Berkas (dengan memasukkan NUPTK)
Selain itu untuk mengetahui SK Impasing dan tunjangan profesi, dapat melalui sms.
Berikut sms gateway untuk melihat SK Inpassing dan Tunjangan Profesi jenjang Pendidikan Dasar.
Untuk mengetahui tunjangan profesi, kata kunci yang dapat digunakan adalah NRG, NUPTK, atau Nomor Peserta Sertifikasi. Sedangkan untuk mengetahui SK Inpassing Guru Bukan PNS, kata kuncinya hanya NUPTK.

Untuk pengusulan, melewati beberapa tahapan dan persyaratan. Untuk pengusulan SK Impasing ini tidak akan kami jelaskan, karena sesuai Permendiknas nomor 22/2010, batas akhir penetapan SK Inpassing adalah 30 Desember 2011. Oleh karena itu, bagi yang belum pernah mengusulkan agar segera mengusulkan dengan syarat dan prosedurnya. Nah, untuk contoh formar usulannya beserta ketentuannya, dapat anda unduh di bawah ini :
Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS
Permendiknas 22/2010: Penetapan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS
Permendiknas 72/2008: Tunjangan Profesi GTT Bukan PNS
Sumber : Kemendiknas.go.id - Google
Media Science Education Quality Improvement Project (SEQIP)

Sistem peralatan pembelajaran SEQIP dirancang untuk sekolah dasar dan terdiri dari tiga bagian :
1. Kit Murid (KM) untuk percobaan yang dilaksanakan oleh siswa sendiri dalam kelompok-kelompok kecil.
2. Kit Guru (KG) untuk peragaan dan percobaan yang umumnya dilakukan oleh guru dan siswa.
3. Buku panduan untuk percobaan-percobaan yang dirakit sendiri (Buku Percobaan IPA) dengan menggunakan barang atau bahan yang ditemukan dilingkungan tempat tinggal siswa.
Sistem peralatan adalah satu diantara enam komponen SEQIP untuk meningkatkan mutu pembelajaran IPA. Keenam komponen tersebut, yaitu sistem pelatihan, bantuan profesional bagi guru, sistem peralatan pemeliharaan dan perbaikan, pengembangan bahan tertulis, dan sistem monitoring dan evaluasi, diimplementasikan secara simultan untuk mencapai perbaikan yang berarti pada proses dan hasil pembelajaran siswa.
Peralatan dan percobaan dikembangkan berdasarkan proses pembelajaran tertentu. Ini berarti bahwa proses pembelajaranlah yang menentukan sarana pembelajaran dan bukan sebaliknya. Percobaan pada umumnya tidak mendominasi proses belajar mengajar. Peralatan dirancang untuk mempermudah proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
Langkah-langkah pembelajaran Media Science Education Quality Improvement Project (SEQIP)
Pada bagian ini diberikan informasi tentang cara guru membelajarkan siswa mengenai konsep yang bersangkutan. Di dalamnya tercakup paparan tentang :
- Bagaimana memulai pembelajaran (pengenalan masalah/topik penbelajaran)
- Bagaimana membuat siswa mengerti langkah demi langkah tentang konsep yang dipelajarinya (paparan tentang penerapan yang tepat dari metode pembelajaran tertentu atau kombinasi metode)
- Penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari
- Kesimpulan/ringkasan
- Saran untuk pekerjaan rumah
Paparan tentang langkah-langkah kegiatan juga mencakup diagnosa, gambar, tabel dan sebagainya. Rangkaian informasi dalam kotak yang disertai gambar tangan yang menulis merupakan materi yang harus ditulis oleh guru di papan tulis. Informasi ini misalnya :
a. Petunjuk pengamatan terhadap percobaan
b. Ringkasan hasil dari apa yang diamati siswa atau hasil pembahasan dengan siswa sebelumnya
c. Kesimpulan yang ditemukan oleh siswa
d. Informasi penting yang diberikan oleh guru tentang topik tertentu
e. Gambar-gambar yang membantu untuk menjelaskan dan mengerti suatu masalah.
f. Ringkasan topik tertentu
Semua informasi ini perlu dibuat oleh guru di papan tulis selama pembelajaran. Para siswa akan menyalin teks dan informasi ini ke dalam buku tulis mereka. Dengan kata lain, bahan-bahan tersebut menjadi sumber yang berguna bagi mereka untuk menanggulangi pelajaran dan mengingat hal-hal utama dari topik tertentu. (Depdiknas, 2002).
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan media SEQIP adalah suatu alat peraga untuk mempermudah pembelajaran IPA sehingga menimbulkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Tinjauan Tentang Alat Peraga ( IPA)
Dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar tak lepas dengan alat peraga yang sangat dibutuhkan oleh guru dan siswa.Untuk itu, pada posting kali ini diuraikan tentang :
a. Pengertian Alat Peraga
Sebelum membicarakan lebih jauh tentang alat peraga, terlebih dahulu kita harus memahami pengertian atau definisi alat peraga itu sendiri. Berbicara tentang alat peraga sebagai media pendidikan dan pengajaran kita dapat melihatnya dalam pengertian yang luas maupun terbatas. Berbagai sudut pandang, maksud atau tujuan tertentu menyebabkan timbulnya berbagai pendapat para ahli pendidikan yang menjelaskan pengertian alat peraga.
1) Gagne menempatkan alat peraga sebagai komponen sumber, dia mendifinisikan alat peraga sebagai: “ komponen sumber belajar di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar”.
2) Briggs berpendapat bahwa harus ada sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar. Karena itu dia mendifinisikan alat peraga sebagai “wahana fisik yang mengandung materi pembelajaran”.
3) Wilbur Schramm nampaknya melihat alat peraga dalam pendidikan sebagai suatu tehnik untuk menyampaikan pesan.Oleh sebab itu dia mendifinisikan alat peraga, sebagai berikut “Alat
peraga adalah tehnologi pembawa informasi atau pesan pembelajaran”.
b. Jenis- Jenis Alat Peraga IPA
Khususnya alat peraga IPA telah dikembangkan untuk membantu proses belajar mengajar dengan tujuan anak didik dapat lebih mudah memahami konsep-konsep IPA. Beberapa ahli pendidikan, khususnya ahli tentang media pendidikan telah menggolongkan alat peraga sesuai dengan fungsi, bentuk dan sumber alat peraga tersebut.
Secara umum alat peraga sebagai media pendidikan terdiri dari: 1) bahan –bahan cetakan atau bacaan seperti buku, koran, majalah dan sebagainya. 2) alat-alat audio dan visual, seperti: radio kaset, TV, video, dan lain-lain. 3) sumber-sumber masyarakat, seperti: monument, candi dan peninggalan sejarah lainnya. 4) koleksi bendabenda seperti: koleksi mata uang kuno, koleksi awetan tumbuhan dan hewan. 5) perilaku guru ketika yang dicontohkan kepada siswa. Dengan melihat peranan alat peraga seperti yang telah dijelaskan diatas, maka pembelajaran IPA akan lebih efektif dan lebih nyata.
Lebih jauh secara rinci, kita dapat melihat alat peraga IPA di sekolah dasar sehubungan dengan pendekatan ketrampilan proses, baik bagi siswa maupun bagi guru itu sendiri.
1. Manfaat alat peraga IPA bagi siswa
- Dapat meningkatkan motivasi belajar
- Dapat menyediakan variasi belajar
- Dapat memberi gambaran struktur yang memudahkan belajar
- Dapat memberikan contoh yang selektif
- Dapat merangsang berpikir analisis
- Dapat memberikan situasi belajar yang tanpa beban atau tekanan (kurang bersifat formal).
2. Manfaat alat peraga IPA bagi guru
- Dapat memberikan pedoman dalam merumuskan tujuan pembelajaran
- Dapat memberikan sistematika mengajar
- Dapat memudahkan kendali pengajaran
- Dapat membantu kecermatan dan ketelitian dalam penyajian
- Dapat membangkitkan rasa percaya diri dalam mengajar
- Dapat meningkatkan kualitas pengajaran.
Peranan alat peraga dalam pembelajaran IPA sebagai proses antara lain memberikan pengalaman langsung dalam belajar, mengaktifkan komunikasi dan interaksi antar guru dan siswa dan memperbesar perhatian siswa terhadap pelajaran yang diberikan guru.
Disamping itu nilai praktis alat peraga IPA antara lain dapat menampilkan obyek yang langka dan sulit diamati, dapat melihat gerakan obyek secara langsung dan tidak langsung.
Daftar Pustaka :
Bruner (dalam Handoyo.1990.148) Teori Belajar.
Gagne (dalam Ismail, 1998) Komponen Sumber Belajar
Waler Klinger (1997) “Metode Pengajaran Ilmu Pendidikan Alam” Nurn Berg :
Erziehung Swiss. Fakultat Der Universitat Erlangen.
Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik Serta Penerapannya
A. Kelebihan dan Kelemahan
1) Kelebihan pembelajaran matematika realistik antara lain :
a) Karena membangun sendiri pengetahuannya, maka siswa tidak pernah lupa.
b) Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan, sehingga siswa tidak cepat bosan untuk belajar matematika.
c) Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka, karena sikap belajar siswa ada nilainya.
d) Memupuk kerjasama dalam kelompok.
e) Melatih keberanian siswa karena siswa harus menjelaskan jawabannya.
f) Melatih siswa untuk terbiasa berfikir dan mengemukakan pendapat.
g) Mendidik budi pekerti.
2) Kelemahan pembelajaran matematika realistik antara lain :
a) Karena sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menentukan sendiri jawabannya
b) Membutuhkan waktu yang lama.
c) Siswa yang pandai kadang tidak sabar menanti jawabannya terhadap teman yang belum selesai
d) Membutuhkan alat peraga yang sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu
e) Belum ada pedoman penilaian sehingga guru merasa kesal dalam evaluasi/memberi nilai.
(www. google. RME. co. id)
B. Penerapan Pendekatan Matematika Realistik dalam Pembelajaran Perkalian
Perkalian adalah penjumlahan yang berulang sebanyak “n” dan berlaku sifat komutatif dan asosiatif. Menurut David Glover (2006:20). materi perkalian materi esensial yang cukup lama proses penanamannya. Bahkan, kalau sudah disajikan dalam soal cerita seringkali siswa mengalami kesulitan.
Untuk itu guru harus mampu menemukan suatu cara agar bisa membawa siswa lebih mudah dalam penanaman konsep materi tesebut dengan membawa anak ke situasi permasalahan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari yang sering dialami siswa, misalnya dalam penanaman konsep perkalian, dengan cara guru mengajukan pertanyaan, “ 3 ekor ayam, kakinya ada berapa ?” Dengan masalah seperti ini, jawaban anak diharapkan akan bermacam-macam. Salah satunya adalah banyaknya kaki ayam adalah 2 + 2 + 2. Jika tidak ada yang menyatakan dengan 3 x 2, maka kita dapat mengenalkan tentang notasi atau lambang atau konsep perkalian, yaitu 3 x 2. Jadi, dengan pertanyaan tadi diharapkan siswa dapat membangun atau mengkontruksikan pengetahuannya sendiri. Dari jawaban pertanyaan itu dimunculkan konsep perkalian. Jadi, bukan guru yang langsung mengumumkan, namun siswa yang mendapatkan arti 3 x 2.
Pembelajaran dengan pendekatan realistik adalah suatu konsep pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata yang dikenal siswa dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri. Masalah konteks nyata merupakan bagian inti dan dijadikan sebagai starting point dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik ini.
Dengan demikian pembelajaran realistik merupakan suatu sistem pembelajaran yang didasarkan pada penelitian kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga guru harus merencanakan pengajaran yang cocok dengan tahap perkembangan siswa, baik itu mengenai kelompok belajar siswa, memfasilitasi pengaturan belajar siswa, mempertimbangkan latar belakang dan keragaman pengetahuan siswa, serta mempersiapkan cara-teknik pertanyaan dan pelaksanaan assessmen otentiknya, sehingga pembelajaran mengarah pada peningkatan kecerdasan siswa secara menyeluruh untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Konsepsi dan Langkah-langkah Pendekatan Matematika Realistik
A. Konsepsi Pendekatan Matematika Realistik
Menurut Sutarto Hadi (dalam Supinah dan Agus D.W, 2008) mengemukakan beberapa konsepsi pendekatan matematika realistik tentang siswa, guru, dan pembelajaran.
1) Konsepsi pendekatan matematika realistik tentang siswa adalah sebagai berikut:
a) Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;
b) Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;
c) Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali dan penolakan;
d) Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman;
e) Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematika.
2) Konsepsi pendekatan matematika realistik tentang guru adalah sebagai berikut:
a) Guru hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran;
b) Guru harus mampu membangun pembelajaran yang interaktif;
c) Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif terlibat pada proses pembelajaran dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan
d) Guru tidak terpancang pada materi yang ada di dalam kurikulum, tetapi aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial.
3) Konsepsi pendekatan matematika realistik tentang pembelajaran matematika meliputi aspek- aspek berikut:
a) Memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang ‟riil‟ bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna.
b) Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut;
c) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/permasalahan yang diajukan;
d) Pembelajaran berlangsung secara interaktif. Siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain, dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran (http: //p4tkmatematika.org/../ matematika-sd/).
B. Langkah-Langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Supinah dan Agus D.W (2008), langkah-langkah pembelajaran matematika realistik adalah sebagai berikut :
1) Memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang real bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna.
2) Permasalahan yang diberikan harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut.
3) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/permasalahan yang diajukan.
4) Pembelajaran berlangsung secara interaktif, siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain, dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/).
Sedangkan menurut Nyimas Aisyah, dkk (2007: 7.27), langkah-langkah pembelajaran matematika realistik yaitu :
1) Persiapan
a) Menentukan masalah kontekstual yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan.
b) Mempersiapkan model atau alat peraga yang dibutuhkan.
2) Pembukaan
a) Memperkenalkan masalah kontekstual kepada siswa.
b) Meminta siswa menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
3) Proses Pembelajaran
a) Memperhatikan kegiatan siswa baik secara individu ataupun kelompok.
b) Memberi bantuan jika diperlukan.
c) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menyajikan hasil kerja mereka dan mengomentari hasil kerja temannya.
d) Mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik untuk menyelesaikan masalah.
e) Mengarahkan siswa untuk menentukan aturan atau prinsip yang bersifat umum.
4) Penutup
a) Mengajak siswa menarik kesimpulan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari.
b) Memberi evaluasi berupa soal matematika dan pekerjaan rumah.
Ciri-ciri dan Prinsip RME - Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik / Realistic Mathematic Education (RME)( Bagian - 2 )
A. Ciri - Ciri RME ( Realistic Mathematic Education)
Pada psoting sebelumnya kita telah berkenalan dengan RME, namun jika belum kenal maka anda dapat berkenalan disini : Realistic Mathematic Education (RME)
Menurut Supinah dan Agus D.W (2008), Pendidikan Matematika- Realistik Realistic Mathematic Education (RME) adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Menggunakan masalah kontekstual,
yaitu matematika dipandang sebagai kegiatan sehari-hari manusia, sehingga memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi atau dialami oleh siswa (masalah kontekstual yang realistik bagi siswa) merupakan bagian yang sangat penting.
2) Menggunakan model,
yaitu belajar matematika berarti bekerja dengan alat matematis hasil matematisasi horisontal.
3) Menggunakan hasil dan konstruksi siswa sendiri,
yaitu siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematis, di bawah bimbingan guru.
4) Pembelajaran terfokus pada siswa 5) Terjadi interaksi antara murid dan guru,
yaitu aktivitas belajar meliputi kegiatan memecahkan masalah kontekstual yang realistik (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/).
Nyimas Aisyah, dkk (2007: 7.18-7.19), juga menyatakan bahwa pendekatan matematika realistik mempunyai karekteristik atau ciri-ciri sebagai berikut :
1) Pembelajaran harus dimulai dari masalah kontekstual yang diambil dari dunia nyata.
2) Dunia abstrak dan nyata harus dijembatani oleh model.
3) Siswa dapat menggunakan strategi, bahasa, atau symbol mereka sendiri dalam proses mematematikakan dunia mereka. Artinya, siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hasil kerja mereka dalam menyelesaikan masalah nyata yang diberikan oleh guru.
4) Proses pembelajaran harus interaktif.
5) Hubungan di antara bagian-bagian dalam matematika dengan disiplin ilmu lain, dan dengan masalah dari dunia nyata diperlukan sebagai satu kesatuan yang saling kait mengait dalam penyelesaian masalah.
c. Prinsip RME Menurut Van den Heuvel Panhuizen (dalam Supinah dan Agus D.W, 2008), prinsip-prinsip dalam pendekatan realistik adalah sebagai berikut :
1) Prinsip aktivitas (Activity Principle)
Matematika adalah aktivitas manusia. Pembelajar harus aktif baik secara mental maupun fisik dalam pembelajaran matematika.
2) Prinsip realitas (Reality Principle)
Pembelajaran matematika dimulai dengan masalah-masalah yang realistik atau dapat dibayangkan oleh siswa.
3) Prinsip berjenjang (Level Principle)
Artinya dalam belajar matematika siswa melewati berbagai jenjang pemahaman, yaitu dari mampu menemukan solusi suatu masalah kontekstual atau realistik secara informal, melalui skematisasi memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang mendasar sampai mampu menemukan solusi suatu masalah matematis secara formal.
4) Prinsip jalinan
Artinya berbagai aspek atau topik dalam matematika jangan dipandang dan dipelajari sebagai bagian-bagian yang terpisah, tetapi terjalin satu sama lain sehingga siswa dapat melihat hubungan antara materi-materi itu secara lebih baik.
5) Prinsip interaksi
Yaitu matematika dipandang sebagai aktivitas sosial. Siswa perlu dan harus diberikan kesempatan menyampaikan strateginya dalam menyelesaikan suatu masalah kepada yang lain untuk ditanggapi, dan menyimak apa yang ditemukan orang lain dan strateginya menemukan itu serta menanggapinya.
6) Prinsip bimbingan ( Guidance Principle)
Yaitu siswa perlu diberi kesempatan terbimbing untuk menemukan pengetahuan matematika (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/).
Ciri-ciri dan prinsip RME pada intinya adalah matematika merupakan aktivitas insani. Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang memecahkan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi materi pelajaran. Untuk itu pendidikan matematika harus diarahkan pada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan yang memungkinkan siswa menemukan kembali matematika berdasarkan usaha mereka sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Amir. 2007. Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: UNS Press.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Barnes, Hayley. 2004. ”Realistic Mathematics Education: Eliciting Alternative Mathematical Conceptions of Learners”. International Journal mathematical in science and Technology. (http://.up.ac.za/dspace/bitstream). Diakses tanggal 22 Januari 2010. Pukul 20.00 WIB
Devrim “Uzel and Sevin¸c Mert Uyang”OR. (2006), “Attitudes of 7th Class Students Toward Mathematics in Realistic Mathematics Education”. International Journal of Mathematics education (http://m-hikari.com/imf-37-40-2006/uzel). Diakses tanggal 28 Februari 2010. Pukul 18.30 WIB
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Glover, David. 2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume 1 A-F (terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
.2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume1G-P(terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
I. G. A. K Wardani. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka
Karso. 2002. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka
Kurikulum KTSP SD/MI 2007
Milles, B. Matthew .2000. Qualitative Data Analisis : Sourcebook of new methods(terjemahan), Beverly hills:Sage publication
Munarsih, Ari. 2008. Upaya Penigkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta.UMS Surakarta.
Spiegel, Murray R. 1996. Matematika Dasar (terjemahan). Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama
Mustaqim & Abdul Wahib. 2003. Psikologi Pandidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Negoro, ST dan B. Harahap. 1999. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nyimas Aisyah, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.
90
91
Oemar Hamalik. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem .Jakarta: PT. Bumi Aksara
Rodhiyah, 2006. Meningkatkan Kemampuan menyelesaikan Operasi Perkalian dan Pembagian dengan Metode Permainan Pada Siswa Kelas IV SDN Purwoso 03 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007. Skripsi tidak ditebitkan. Semarang UNNES
Sarwiji Suwandi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Slamet,St.Y dan Suwarto. 2007. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:Rineka Cipta.
Slavin, Steve. 2005. Matematika Untuk Sekolah Dasar (terjemahan). Bandung : Pakar Raya.
Sugiyanto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta:Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Suharsimi Arikunto dan Sugiarto. 2009. Peningkatan Profesi Ilmiah Guru melalui Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional. Surakarta: UNS.
Supinah & Agus D.W, 2008. Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/). Diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 09.00 WIB.
Syaiful Sagala. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Soewito.1993. Pendidikan Matematika I. Jakarta : Dekdikbud Dirjen Dikti Proyek pembinaan Tenaga Kerja.
S. Nasution. 2006. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara.
Undang-Undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003
Yatim Rianto. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC Surabaya
http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 21.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?eosr=on&q=Hakikat+Belajar+Matematika,diakses tanggal 18 Oktober2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?q=pengertian+pembelajaran&hl/frustanti.html , diakses tanggal 18 Oktober 2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?u=http/www.banjar-.go.id, diakses tanggal 20 Oktober 2009. Pukul 18.30 WIB
Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik / Realistic Mathematic Education (RME)( Bagian - 1 )
Pembelajaran Matematika Realistik atau Realistic Mathematic Education (RME) merupakan teori pembelajaran matematika yang dikembangkan di Belanda. Teori ini berangkat dari pendapat Fruedenthal bahwa matematika merupakan aktivitas insani dan harus dikaitkan dengan realitas. Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika seseorang dalam memecahkan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi materi pelajaran.
Devrim“Uzel and Sevin¸c Mert Uyang”OR (2006) dalam International Journal of Mathematics education: RME theory is a promising direction to improve and enhance learners’ understandings in mathematics (http://m-hikari.com/imf-37-40-2006/uzel). Teori RME merupakan arah yang menjanjikan untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajar di bawah klasemen dalam matematika.
Freudenthal (dalam Supinah dan Agus D.W, 2008), berpendapat bahwa siswa tidak dapat dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi. Pendidikan matematika harus diarahkan pada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan yang memungkinkan siswa menemukan kembali (reinvention) matematika berdasarkan usaha mereka sendiri. Dalam RME, dunia nyata digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika. Menurut Blum & Niss (dalam Supinah & Agus D.W, 2008), dunia nyata adalah segala sesuatu di luar matematika, seperti mata pelajaran lain selain matematika, atau kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita. Supinah dan Agus D. W (2008), menyatakan dengan masalah kontekstual yang diberikan pada awal pembelajaran, dimungkinkan banyak/beraneka ragam cara yang digunakan atau ditemukan siswa dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, siswa mulai dibiasakan untuk bebas berpikir dan berani berpendapat, karena cara yang digunakan siswa satu dengan yang lain berbeda atau bahkan berbeda dengan pemikiran guru tetapi cara itu benar dan hasilnya juga benar (http: // p4tk matematika. org/../matematika-sd/).
Hayley Barnes (2004) dalam International Journal mathematical in science and Technology:
RME has played a role in eliciting and addressing alternative conceptions of learners in this intervention This has been done firstly through the application of the principle of guided reinvention in the design of contextual problems(http://.up.ac.za/dspace/bitstream).
RME telah memainkan peran dalam memunculkan dan membahas konsep-konsep alternatif dari peserta didik. Hal ini telah dilakukan terlebih dahulu melalui penerapan prinsip penciptaan kembali dipandu dalam perancangan masalah kontekstual.
Secara garis besar RME adalah suatu teori pembelajaran yang telah dikembangkan khusus untuk matematika, yang bertolak dari masalah-masalah yang realistik dalam kehidupan sehari-hari siswa. Setiap siswa bebas mengemukakan dan mengkomunikasikan ide-idenya tersebut kepada siswa lain. Konsep matematika realistik ini sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pembelajaran matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman-pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik merupakan pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata yang dikenal siswa dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Amir. 2007. Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: UNS Press.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Barnes, Hayley. 2004. ”Realistic Mathematics Education: Eliciting Alternative Mathematical Conceptions of Learners”. International Journal mathematical in science and Technology. (http://.up.ac.za/dspace/bitstream). Diakses tanggal 22 Januari 2010. Pukul 20.00 WIB
Devrim “Uzel and Sevin¸c Mert Uyang”OR. (2006), “Attitudes of 7th Class Students Toward Mathematics in Realistic Mathematics Education”. International Journal of Mathematics education (http://m-hikari.com/imf-37-40-2006/uzel). Diakses tanggal 28 Februari 2010. Pukul 18.30 WIB
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Glover, David. 2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume 1 A-F (terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
.2006. Seri Ensiklopedia Anak A-Z Matematika : Volume1G-P(terjemahan). Bandung : Grafindo Media Pratama.
I. G. A. K Wardani. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka
Karso. 2002. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka
Kurikulum KTSP SD/MI 2007
Milles, B. Matthew .2000. Qualitative Data Analisis : Sourcebook of new methods(terjemahan), Beverly hills:Sage publication
Munarsih, Ari. 2008. Upaya Penigkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta.UMS Surakarta.
Spiegel, Murray R. 1996. Matematika Dasar (terjemahan). Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama
Mustaqim & Abdul Wahib. 2003. Psikologi Pandidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Negoro, ST dan B. Harahap. 1999. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nyimas Aisyah, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.
90
91
Oemar Hamalik. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem .Jakarta: PT. Bumi Aksara
Rodhiyah, 2006. Meningkatkan Kemampuan menyelesaikan Operasi Perkalian dan Pembagian dengan Metode Permainan Pada Siswa Kelas IV SDN Purwoso 03 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007. Skripsi tidak ditebitkan. Semarang UNNES
Sarwiji Suwandi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Slamet,St.Y dan Suwarto. 2007. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:Rineka Cipta.
Slavin, Steve. 2005. Matematika Untuk Sekolah Dasar (terjemahan). Bandung : Pakar Raya.
Sugiyanto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta:Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Suharsimi Arikunto dan Sugiarto. 2009. Peningkatan Profesi Ilmiah Guru melalui Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional. Surakarta: UNS.
Supinah & Agus D.W, 2008. Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. (http: //p4tkmatematika.org/../matematika-sd/). Diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 09.00 WIB.
Syaiful Sagala. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Soewito.1993. Pendidikan Matematika I. Jakarta : Dekdikbud Dirjen Dikti Proyek pembinaan Tenaga Kerja.
S. Nasution. 2006. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara.
Undang-Undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003
Yatim Rianto. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC Surabaya
http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses tanggal 24 Januari 2010. Pukul 21.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?eosr=on&q=Hakikat+Belajar+Matematika,diakses tanggal 18 Oktober2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?q=pengertian+pembelajaran&hl/frustanti.html , diakses tanggal 18 Oktober 2009. Pukul 20.00 WIB
http://www.google.co.id/gwt/n?u=http/www.banjar-.go.id, diakses tanggal 20 Oktober 2009. Pukul 18.30 WIB
Ujian Nasional ( UN ) 2012

Ujian nasional dijadwalkan akan dilaksanakan pada bulan April 2012. Muhammad Nuh juga mengungkapkan bahwa saat ini perdebatan mengenai UN sudah selesa dan masalahnyasekarang adalah bagaimana melaksanakan UN dengan baik. Ia menuturkan, ada empat hal yang menjadi kunci pelaksanaan UN yang baik atau kredibel. Pertama, dijamin keamanan dan kerahasiaannya. Karena jika berkasnya bocor, maka kredibilitas UN itu sudah berkurang, bahkan hilang. Yang kedua, dari sisi ketepatan distribusi, harus tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat bahan yang mau diuji. Yang ketiga, pada saat hari pelaksanaan harus dijamin kelancarannya. Jangan sampai soal sudah ada semua tapi salah bagi.Beliau juga mengungkapkan bahwa “Kalau seandainya terjadi kesalahan, maka harus disiapkan satu sistem yang mampu mengantisipasi kesalahan tersebut,” katanya. Dan yang keempat, dalam sistem evaluasi harus dipastikan agar nilai rapot bisa menjamin bahwa nilai itu mencerminkan kemampuan sang anak.
Mungkin sebagian dari kita sadar, bahwa perhitungan Nilai Akhir yang telah kita lakukan pada ujian 2011 yakni mengenai nilai-nilai raport yang justru malah membuah nilai anak lebih rendah ketimbang nilai hasil ujiannya. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai raport anak ketika masih duduk di kelas IV dan V kurang baik ketimbang nilai hasil ujiannya yang di usahakan oleh anak itu sendiri agar menjadi lebih baik. Walaupun pada dasarnya tujuan dari diperhitungkannya nilai raport bukan untuk menambah nilai ujian siswa, tetapi untuk mengetahui kemampuan siswa dari tinggkatan kelas yang lebih rendah, namun tetap saja apabila nilai raport mereka kurang maka akan mempengaruhi nilai Akhir mereka ketika telah melaksanakan Ujian Nasional.
Keempat kunci yang telah di bahas diatas, jika terpenuhi maka ada dua hal yang dapat diraih. Pertama bisa dilakukan pemetaan tentang ragam kompetensi siswa dan penyebarannya, dan informasi kualitas sang anak (lulus atau tidak lulus). Menteri Nuh juga menegaskan, bahwa ujian nasional bukanlah penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan oleh satuan pendidikan. Tapi satuan pendidikan menetukan kelulusan berdasarkan, tuntas Kegiatan Belajar Mengajar, akhlak yang baik, dan Ujian Nasional. Jadi pada intinya yang menentukan kelulusan bukan UN atau panitia, melainkan satuan pendidikan.
Kabar baru berikutnya adalah masalah penggandaan Naskah Soal UN. Pada UN 2011, penggandaan dilakukan di setiap propinsi, sedangkan UN 2012 mendatang, penggandaan soal akan dipusatkan, dengan jumlah percetakan tidak lebih dari 10 lokasi. “Dengan begitu, pengawasannya lebih mantap, dan tingkat keamanan jadi lebih tinggi,” ujar Mendikbud M. Nuh. Ia menambahkan, dengan semakin sedikitnya jumlah percetakan, cakupan kontrolnya menjadi lebih sempit, sehingga bisa lebih fokus melakukan pengawasan dan pengamanan soal.
Penggandaan soal secara sentralisasi juga dilakukan untuk memudahkan pengawasan kualitas percetakan. “Kualitas percetakan nantinya akan menggunakan security printing,” tutur Menteri Nuh. Lebih lanjut ia menjelaskan, di setiap lembar naskah UN 2012 akan dicetak tanda tertentu, untuk memberikan ciri, di percetakan mana naskah soal tersebut dicetak. Sehingga jika terjadi kebocoran soal, akan lebih mudah untuk menelusurinya.
“Selain itu, sentralisasi percetakan juga telah ditinjau dari aspek ekonomi, cost bisa ditekan,” ucapnya. Selain aspek ekonomi, aspek jarak distribusi juga menjadi pertimbangan. Kemdikbud telah melakukan review terhadap percetakan di setiap provinsi pada UN 2011 lalu. Ternyata tidak semua provinsi mencetak naskah soal UN di provinsinya sendiri. “Misalnya ada provinsi Bali yang percetakannya di Jawa Timur”. Diharapkan, meskipun penggandaan soal UN 2012 dilakukan secara sentralisasi, distribusi naskah soal UN tidak menjadi hambatan.Sementara untuk pengamanan pendistribusian soal, Kemdikbud akan bekerjasama dengan pihak kepolisian di titik-titik tertentu, seperti di rayon atau tingkat kecamatan. penempatan personil kepolisian di sekolah yang menjadi lokasi ujian nasional tidak dilakukan, hal ini untuk menjaga kondisi psikologis anak didik.
Nah, berikut Jadual UN 2012 mendatang, :
UN untuk tingkat SMA/MA akan berlangsung pada 16-19 April 2012, dan UN susulan akan dilaksanakan pada 23-26 April.
Untuk jenjang SMP/MTs dan SMPLB, UN akan dilaksanakan pada 23-26 April 2012, dan UN susulan akan berlangsung pada 30- 4 Mei 2012.
Sedangkan untuk jenjang SD/MI/SDLB UN akan digelar pada 7-9 Mei 2012, dan UN susulan akan dilaksanakan pada 14-16 Mei 2012.
Hasil UN tingkat SMA/MA dan SMK akan diumumkan pada 24 Mei 2012.
Tingkat SMP/MTs, SMPLB dan SMALB pada 2 Juni 2012.
Sedangkan untuk pengumuman kelulusan UN tingkat SD menjadi kewenangan setiap provinsi.
End - Kemendikbud web
Hello, My name is Hary Kurniadi. I am from Barito Kuala District. I am an elementary school teacher. I taught at the SDN Jejangkit Muara 2. I am also currently studying at a State University, in "Lambung Makurat University", Program DII - S1 PGSD, FKIP. I am pleased with the existence of this blog. I'll write if I understand, and I'll share if I know. "Go forward and look ahead, it is just a mirror behind you!". Sorry, my English was bad until now . If you have any questions, please follow me on facebook (rockleypuntik@yahoo.co.id), Thanks.. ^_^..Loading Lambat ??? Klik versi mobile :EDUCATION FOR OUR COUNTRY - PENDIDIKAN UNTUK NEGERI KITA
Pengumuman !!!Mau Artikel dan nama Anda terpampang di sini ?? Bagi teman-teman, saudara-saudari, bapak ibu guru sekalian, kami selaku dan atas nama ADMINISTRATOR "Pendidikan Untuk Negeri Kita" ingin memberikan kesempatan Anda untuk mengirimkan artikel karangan Anda sediri untuk di publikasikan ke weblog ini. Artikel dapat dikirim ke email : inbox_papantulisku@yahoo.com dengan menyertakan foto beserta biodata anda (misalnya: Nama, TTL, Instansi, Asal daerah). Setelah anda selesai mengirim ke email tersebut, harap beritahukan kami dengan mengirim sms : sudah kirim ke nomor 0852 5151 8001. Atas Perhatiannya, kami ucapkan terima kasih
-
►
2011
(88)
-
►
December
(12)
- Tips Khusus Bagi Penulis Ijazah
- Metode Diskusi ( Bagian 2)
- Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran
- Penggunaan Media dalam Pembelajaran
- Inpassing Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil (GBPNS)
- Media Science Education Quality Improvement Projec...
- Tinjauan Tentang Alat Peraga ( IPA)
- Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Matematika Re...
- Konsepsi dan Langkah-langkah Pendekatan Matematika...
- Ciri-ciri dan Prinsip RME - Pendekatan Pembelajara...
- Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik / Rea...
- Ujian Nasional ( UN ) 2012
-
►
July
(17)
- Free Download Education Software
- PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES
- Aktivitas Belajar dan Hubungannya Dengan Pembelaja...
- Listening Team ( Tim Pendengar ) - 101 Pembelajara...
- Kesulitan - kesulitan Belajar Yang Terjadi Didalam...
- Download Kumpulan PTK
- Masalah Pada Komputer dan Solusinya - Bagian 2
- Masalah Pada Komputer dan Solusinya - Bagian 1
- Mengatasi Masalah Generic Host Process for Win32 S...
- Macam-macam Masalah Pada Komputer/PC/Laptop dan Ca...
- Neil Amstrong Selamat Gara-gara Bolpoint !
- Komponen-Komponen Utama Komputer
- Inquery Minds What To Know ( Teknik Membangkitkan ...
- Jadi Guru tidak harus di Indonesia ???
- 13 Perpustakaan Paling Modern di Dunia
- Teaching listening
- Kumpulan Pembelajaran Aktif - ( Active Learning )
-
►
December
(12)
Home
Models
Methode
Downloads
Articles
Materiku
Techno
Inlink
















